Gada ili Tandhana: Selayang Pandang

Tampilkan postingan dengan label Selayang Pandang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Selayang Pandang. Tampilkan semua postingan
User GIT

Investasi

By  

Mulailah berinvestasi dari sekarang!



 trading















"Untuk berinvestasi dengan baik dan benar, silahkan klik disini untuk melihat beberapa pertimbangan sebelum Anda memulai investasi. Semoga kita semua semakin sukses."



 grafik live




 Hidup dari trading

Read More
User GIT

Menerima dan Berterimakasih

By  

Dengan menyebut nama-Nya yang maha pengasih maha penyayang.


"Allah, tidak ada tuhan selain Dia. Yang maha hidup, Yang terus menerus mengurus (Makhluk-Nya), tidak mengantuk dan tidak tidur. Milik-Nya apa yang ada dilangit dan apa yang ada di bumi. Tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya tanpa izin-Nya. Dia mengetahui apa yang di hadapan mereka dan apa yang di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui sesuatu apa pun tentang ilmu-Nya melainkan apa yang Dia kehendaki. (Kursi-Nya) meliputi langit dan bumi. Dan Dia tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Dia Maha tinggi, Maha besar."
Q.S-Al-Baqarah 255



Banyak hal yang sudah terjadi di kehidupan kita. Berbagai kisah dan kejadian di masa lalu yang sebagian atau bahkan seluruhnya masih tersimpan dengan baik dalam ingatan kita. 

Baik itu kisah  indah yang menjadi inspirasi dan motivasi maupun kisah buruk yang menyakitkan. 

Beberapa dari kita ada yang memilih untuk menjadikan apapun pengalaman dimasa lalu khususnya pengalaman buruk sebagai pembelajaran yang sangat berguna untuk melangkah ke masa depan. 

Namun tidak sedikit juga yang masih terus mengingat dan sulit untuk melupakan pengalaman buruk yang telah menimpa dimasa lalu. 


Hal ini memang tidak bisa juga disalahkan, karena memang sistem kerja pikiran kita yang sudah dirancang sedemikian rupa oleh yang maha kuasa. 

Dimana saat kejadian yang melibatkan luapan emosi yang cukup besar, baik itu pengalaman yang indah maupun pengalaman yang menyakitkan, terdapat fungsi dari bagian otak kita yang secara otomatis akan menyimpan rapi dan sangat baik di dalam ingatan seseorang yang jangka waktu penyimpanannya tidak bisa ditentukan. 

Sampai-sampai tidak terlalu mudah untuk mendapatkan tombol penghapusnya. Dan yang paling menyedihkan, rekaman ingatan buruk yang tersimpan itu akan selalu siap memutar kembali secara otomatis saat kita berhadapan dengan kejadian-kejadian yang hampir sama dengan kejadian memilukan tersebut. 

Memang terdengar biasa, jika seseorang yang mengalami kejadian buruk yang dialaminya beberapa tahun atau bahkan berpuluh tahun yang lalu dan hingga saat ini belum bisa melupakan. 

Misal saja sebuah bencana kecelakaan, kehilangan orang yang disayangi, hasil projek pekerjaan yang gagal diraih dan lain sebagainya. 

Hal-hal semacam ini biasanya mengandung luapan emosi yang luar biasa. Saat bayangan kejadian tersebut kembali menghampiri kita, situasi emosi kita pun akan persis sama seolah kejadian tersebut sedang berlangsung. 

Hal yang kita kenal dengan kata trauma inilah jika kita biarkan dan pelihara terus menerus bisa sangat berdampak tidak baik pada kelangsungan hidup kita hari ini dan masa yang akan datang.


Kita menyadari bahwa persoalan ini bukanlah hal ringan dan suatu hal yang mudah untuk diatasi. 

Namun walaupun begitu, bukan berarti tidak ada tombol penghapusnya. Dan untuk menemukan cara terbaik bagaimana kita dalam menyikapi juga menghadapi kondisi seperti ini bukanlah suatu hal yang mustahil untuk kita bahas pada kesempatan ini. 


Mari coba kita mulai, "mudah-mudahan Tuhan menuntun saya dan Anda untuk bisa menemukan cara terbaik" dalam menghadapi, menyikapi atau bahkan dalam menghilangkan berbagai macam pikiran buruk dan trauma buruk masa lalu kita yang mungkin sampai saat ini belum bisa lenyap dari ingatan.


Kembali ke awal paragraf tulisan ini, sengaja saya tulis di awal untuk mengingatkan saya juga Anda ternyata sebenarnya, tidak ada yang perlu kita khawatirkan, sesali, dan tidak ada yang perlu kita tangisi atas kejadian sepahit apapun yang telah terjadi pada diri kita. 


Mengapa? mari kita lihat kutipan di awal paragraf tulisan ini, pertama kali kita telah diberitahu bahwa ternyata kita sangat diperhatikan oleh Tuhan, zat yang maha luar biasa pemilik alam semesta ini. 

Yang terus menerus mengurusi kita, dan karena begitu sayangnya, Dia bahkan tidak mengantuk apalagi tertidur demi menjaga kita. Ya... demi saya, Anda. 

Dan bahkan lebih luas lagi, ternyata Dia tidak tidur karena begitu besar kasih sayang-Nya kepada semua makhluk yang diciptakan-Nya. 

Saya jadi teringat ketika kedua orang tua saya menceritakan masa-masa waktu saya baru dilahirkan, kedua orang tua saya hampir setiap malam bergantian untuk tidak tidur selama kurang lebih 2 bulan demi menjaga saya. 

Karena mungkin mengkhawatirkan kondisi saya yang masih bayi pada saat itu. 

Jika mengingat akan hal itu, saya merasa begitu luar biasanya kasih sayang mereka terhadap saya. 

Dan banyak lagi perasaan yang tidak bisa saya ungkapkan terkait kasih sayang mereka. 

Saya yakin Anda juga hampir sama dengan saya. Lalu bagaimana dengan Tuhan, yang sepanjang waktu tidak tidur untuk kita. Bagaimana menurut Anda?  

Kembali ke awal paragraf lagi, lalu kita diberi tahu, apapun yang kita miliki ternyata hanyalah sekedar titipan dari-Nya. 

Sesama kita juga tidak akan mampu untuk saling menolong tanpa ijin dari-Nya. 

Hal apapun yang sekarang telah kita ketahui ternyata adalah kehendak-Nya, bukan karena Anda seorang yang cerdas atau jenius. 

Dan semua kejadian yang diluar kemampuan kita ternyata memang sudah diatur-Nya. Kita hanya bertugas memilih cara terbaik untuk berusaha dalam hal yang baik pula. 



"Dia terus menerus 
mengurusi kita
dan karena begitu sayangnya 
Dia bahkan 
tidak mengantuk
apalagi tertidur 
demi menjaga kita"


Lalu, jika Tuhan sayang mengapa memberi hal-hal yang menyakitkan?

Berikut beberapa ilustrasi kejadian yang bisa kita soroti bersama: 

Yang pertama
saya yakin hampir semua dari kita pernah mengendarai sepeda. Sebagian besar dari kita yang sudah lancar bahkan mahir bersepeda pasti pernah menjajal rasa sakit ketika jatuh dari sepeda. Apalagi di waktu tahap belajar. 

Sepertinya mustahil jika ada orang yang sekarang lancar dalam mengendarai sebuah sepeda tapi mengaku tidak pernah merasakan sakitnya saat jatuh dari sepeda, dan jika memang benar-benar belum pernah jatuh, saya rasa tinggal menunggu waktu saja, walau rasa sakitnya akan relatif berbeda. 

Nah, kita yang saat ini lancar bahkan mahir bersepeda adalah golongan orang yang saat belajar bersepeda, tidak pernah menghiraukan rasa sakit dan terus mengulang berusaha sampai bisa. Dan akan berusaha semampunya agar tidak jatuh lagi. 

Namun berbeda dengan orang yang berlarut dalam rasa sakit dan membiarkan rasa takut akan sakit jika ia memulainya kembali. 

Mungkin jika ada seorang teman Anda yang sampai sekarang tidak bisa mengendari sepeda, mungkin dia termasuk golongan yang gemar memelihara kesedian dan tidak berani melawan rasa takut, (hehe...) 

Dan mungkin, selamanya tidak akan merasakan bagaimana rasanya mengendarai sepeda dan manfaat bersepeda lainnya.



Yang kedua
saya juga meyakini bahwa hampir semua dari kita pernah merasakan jatuh hati pada seseorang. Ntah itu pada waktu sekolah, kuliah atau saat sudah mulai bekerja. 

Dan tidak sedikit dari kita yang pernah mengalami patah hati karena ditinggal sang kekasih tercinta, dengan berbagai macam alasan menyedihkan. 

Saat kita merasa sudah sangat tulus menyayanginya, dan sudah menyusun rencana masa depan untuk bersama mengejar impian, bahkan kita sudah rela memberikan apapun untuk sang kekaksih. 

Tapi apa yang terjadi ternyata masih diluar keinginan kita. Begitu mengharukan dan sangat menyakitkan ketika kita mengetahui bahwa sang kekasih lebih memilih orang lain ketimbang kita. Sangat mengiris hati...(hehe...)

Bahkan tragedi patah hati ini telah menimpa beberapa orang yang tidak hanya sekali terjadi, bisa juga berulang kali telah terjadi.

Namun, ada beberapa tipe orang yang segera bangun dari hal menyakitkan ini, yang terus selalu berusaha mendapatkan pengganti yang lebih baik, dan pada akhirnya menemukan pujaan hati yang baru dan mengobati rasa-rasa sakit yang sebelumnya. 

Sudah pasti berbeda dengan orang yang terlalu lama larut dalam kesedihan akan hal ini. 

Tentu saja orang seperti ini akan lebih lama dalam menemukan pengganti yang lebih baik, atau bahkan ada juga sebagian orang yang akan benar-benar tidak pernah lagi mendapatkan sosok pujaan hati yang telah diidam-idamkan. (saya cukup prihatin...)


Yang selanjutnya,
banyak juga dari kita yang pernah merasakan kesepian dalam keramaian, merasa sendiri saat berkumpul, merasa jenuh di tempat wisata yang kebanyakan orang lain gembira, merasa haru berlebihan saat momen-momen tertentu, sering mengasihani diri sendiri, atau bahkan peristiwa hujan gerimis pun terasa sangat memilukan hatinya (walah...)

Hal-hal seperti ini akan terjadi pada orang  yang gemar memelihara dan sangat menyayangi emosi buruk di dalam pikirannya. 

Berbeda sekali dengan orang yang sesegera mungkin mengusir emosi buruk saat coba-coba menetap di dalam pikirannya. 

Yang akan gampang bahagia pada sekecil apapun situasi kegembiraan disekelilingnya. 

Dari ketiga ilustrasi di atas, tanpa kita sadari ternyata untuk mendapatkan atau meraih suatu hal baik yang baru dalam kehidupan ini selalu saja tersisip rasa sakit yang harus dilalui. 

Rasa sakit yang saya maksud disini, saya bedakan menjadi dua jenis, pertama saya sebut rasa sakit yang bersifat objektif dan juga rasa sakit yang bersifat subyektif

Rasa sakit yang bersifat objektif contohnya adalah rasa sakit yang kita rasakan pada waktu kita jatuh saat bersepeda, sedangkan rasa sakit yang bersifat subjektif sebagai contohnya adalah rasa sakit yang kita alamai saat kita patah hati dan sejenisnya. 

Pada kesempatan ini saya rasa tidak harus menjabarkan secara panjang lebar terkait kedua jenis rasa sakit ini, karena saya yakin Anda sudah bisa membedakan makna dari keduanya.

Kedua jenis rasa sakit ini, memiliki dampak yang hampir sama dalam membentuk sebuah bayangan-bayangan negatif yang berfungsi untuk melemahkan kita. 

Yang jika tidak dikelolah dengan baik, dia akan sangat betah untuk menetap dalam pikiran seseorang disepanjang waktu hidupnya.  

Dan sebenarnya kita sudah bisa memahami bahwa membiarkan juga memelihara emosi buruk dalam waktu yang terlalu lama sangatlah tidak baik. 

Dan bukan hanya sesederhana itu saja, namun ternyata, emosi buruk yang kita biarkan terlalu lama menetap dalam pikiran kita, akan menjadi bom waktu yang setiap saat bisa saja meledak. 

Dan dampak dari ledakan luapan emosi tersebut tidaklah hanya pada kesehatan mental saja, namun juga sangat berdampak pada kesehatan jasmani seseorang. 

Tidak usah saya sebutkan, coba lihat disekeliling Anda, penyakit apa saja yang sudah ditimbulkan akibat kekecewaan akan beberapa hal yang tidak terpenuhi sesuai dengan harapan. 

Paling sederhananya mungkin sering menyendiri sambil nangis sampai ketiduran, terus masuk angin keesokan harinya (hehe...).


Jadi, bagaimana menyikapi dan menghadapinya?


Menerima 

Berusaha menerima apapun yang sudah didapatkan saat ini. Walaupun hasil yang didapat belum sesuai dengan harapan, padahal sudah merasa melakukan hal maksimal menurut kita. 

Lalu berusahalah untuk mampu menerima semua peristiwa yang telah menimpa kita, baik peristiwa yang kurang baik maupun yang sangat buruk. 

Kita harus benar-benar bisa menerima kenyataan itu, dan kita memang harus menyadari, tidak ada cara terbaik yang bisa kita lakukan selain memaafkan semua hal yang terasa menyakitkan dalam kehidupan ini. 

Dan kita sebenarnya sudah tahu bahwa apapun yang telah menimpa kita sesungguhnya adalah karena kehendak dari Tuhan yang sangat menyayangi kita. 

Dan hanya Dia yang maha tahu akan apa sebenarnya yang kita butuhkan dalam hidup ini.  

Terlepas  hal itu baik maupun buruk dimata kita sebagai manusia. Karena hal yang buruk menurut kita, kadang adalah hal yang sangat baik untuk kita menurut-Nya, begitu juga sebaliknya. 

Kita hanya butuh waktu menunggu sebentar untuk merasakan hasil baik yang sudah ditetapkan-Nya. 

Jadi mulai sekarang, selalu berprasangka baiklah kepada-Nya. "Selalu yakinlah bahwa rasa sakit yang sekarang dialami sebenarnya adalah hal baik yang sedang membawa kita menuju harapan-harapan besar Kita"

Jangan sampai kita malu, karena sudah menduga-duga bahwa Tuhan sedang menyakiti kita, padahal Dia sudah mempersiapkan hal yang sangat indah untuk kita di hari yang akan datang.  



Berterimakasih

Jangan sampai lupa berterimakasih. Banyak hal yang kita bisa lakukan saat ini yang mungkin tidak bisa dilakukan semua orang. Terlepas dari harapan-harapan kita yang belum terwujud dan hal-hal yang tidak disukai telah menimpa kita. 

Namun jangan sampai terabaikan oleh kita, bahwa sistem pernafasan yang bekerja secara otomatis masih berjalan sempurna pada tubuh kita, fungsi pengendalian informasi dari organ-organ lain pada tubuh yang masih berfungsi dengan semestinya hingga saat ini, dan banyak lagi hal yang jarang kita sadari terus menerus diberikan-Nya secara cuma-cuma. 

Dan sekarang mulailah perhatikan hal-hal kecil yang melekat dalam kehidupan kita yang ternyata begitu besar manfaatnya dalam kelangsungan hidup kita. 

Bersyukurlah pada itu semua, yang masih dititipkan hingga sekarang pada Anda. 





Malu rasanya, jika sampai saat ini kita belum pandai menerima dan belum pandai berterimakasih atas apapun yang telah terjadi. 

Kita selalu berharap pada hal-hal yang baik agar dilimpahkan dalam kehidupan kita. 

Dan Tuhan pun sudah berjanji akan mengabulkan segala yang kita butuhkan dengan proses yang ditetapkan-Nya. 

Namun, ketika harapan-harapan kita mulai akan dikabulkan, ternyata kita tidak siap untuk menjalani prosesnya. 

Sikap kita dalam menghadapi proses ini yang tanpa kita sadari ternyata telah mengubah arah harapan-harapan tadi ke arah kebalikannya.

Sebagai contoh, saat kita berdoa dan berharap untuk mendapatkan sebuah smartphone model terbaru. 

Tuhan langsung mengabulkannya dengan berbagai cara, mungkin salah satunya dengan cara memberikan kita peluang-peluang yang bisa menghasilkan uang atau lainnya. 

Nah, sekarang kembali pada diri kita. Hanya berdoa dan tidak berbuat apapun, atau dengan cerdas membaca peluang tersebut lalu menangkapnya.

Dengan kata lain, sebenarnya kita telah memohonkan satu harapan-harapan buruk dalam hidup kita, jika kita tidak meyiapkan sikap yang baik saat harapan-harapan baik kita sedang dikabulkan. 

Hal inilah yang sering menimbulkan ketidakpuasan akan ketetapan yang telah ditentukan-Nya. 

Padahal, semua ini adalah kesalahan yang telah kita lakukan. Yang tidak memahami bagaigamana sikap terbaik dalam menghadapi saat harapan-harapan tersebut sedang dikabulkan. 

Yang akhirnya membuat kita lupa berterimakasih dan tidak mau berusaha untuk memperbaiki sikap. 

Dan parahnya, alih-alih menerima dan berterimakasih, tak sedikit dari kita yang justru berprasangka buruk pada-Nya. 

Tapi untungnya, Tuhan maha pengasih dan maha penyayang, kasih sayangnya begitu luas. Dan tidak pernah berhenti mengawasi kita walau kita tak pernah menganggap-Nya. 

Dan Dia pun tidak pernah berhenti untuk terus menuntun kita dalam menyikapi, menghadapi, dan juga dalam menjalani kehidupan ini.

Nah, sekarang kembali lagi pilihan ada pada diri kita, akan terus memelihara emosi buruk pada pikiran kita atau sesegera mungkin mengusirnya, ingin melihat semua hal buruk sebagai tragedi yang menyayat hati atau hanya sebagai proses menuju keindahan, ingin sedih dan haru saat rintik gerimis atau bahagialah saat berkumpul bersama dalam sebuah acara?   


"Selalu yakinlah 
bahwa rasa sakit 
yang sekarang dialami 
sebenarnya adalah hal baik 
yang sedang membawa kita 
menuju 
harapan-harapan 
besar Kita"


Kita semua yakin bahwa Tuhan sangat menyayangi semua makhluk-Nya tanpa terkecuali, termasuk saya dan Anda. 

Namun jika sampai saat ini masih banyak harapan baik Anda yang belum terwujud dan masih banyak hal buruk masa lalu yang terus terpelihara dalam kehidupan Anda. 

Menurut saya itu adalah persoalan pilihan. Tuhan memberi kita pilihan atas apa yang akan kita jalani. 

Jika ingin berjalan dengan tenang di hari ini, Anda harus benar-benar bisa menerima apa pun yang sudah terjadi di hari kemarin. 

Selain bisa menerima, hal yang tidak boleh juga Anda abaikan adalah pandai berterimakasih atau bersyukur atas apa yang telah Anda raih saat ini. Perbanyaklah berterimakasih kepada-Nya. 

Mudah-mudahan semakin Anda banyak bersyukur maka semakin banyak hal baik yg Anda harapkan atau hal baik yang belum Anda harapkan akan menghampiri Anda dari arah yang tidak disangka-sangka. 

Dan pada akhirnya berbagai bayangan buruk masa lalu Anda, akan segera ditukar dengan bayangan-bayangan baik saat ini yang sangat indah.

Terimakasih dari kami, kami sangat bahagia menghabiskan waktu bersama Anda di situs ini.

Medan, 26 Februari 2019

by : sj. owner " m a L u L u p a " 
Read More
User GIT

Mengejar Impian

By  

Meraih segala hal baik yang menjadi fokus di hari kemarin untuk dinikmati di hari ini. Begitulah cara berfikir kebanyakan orang yang sering disebut dengan menggapai cita-cita. 

Sepintas terbayang sangatlah indah, saat semua keinginan kita menjadi kenyataan dan segala apapun yang kita harapkan bisa terwujud. 

Namun, yang menjadi persoalan disini adalah menumpuknya fokus-fokus pikiran di hari kemarin, dua hari yang lalu, minggu lalu, bulan lalu bahkan fokus kita tahun lalu yang sampai saat ini belum bisa diwujudkan apalagi dinikmati. 

Hasilnya, segudang keinginan yang tadinya menjadi semangat hidup kini berubah menjadi hal buruk yang terus membayangi dan tak mau lepas, seolah menjadi beban berat yang terpikul dalam menjalani hidup saat ini. 

Yang tanpa disadari menjadi benteng kokoh dan penghalang sudut pandang kita dalam mengelolah pikiran-pikiran sederhana untuk mengubahnya menjadi senjata ampuh dalam bertindak dan mengambil keputusan pada banyaknya kesempatan baru yang sebenarnya telah berlalu-lalang setiap waktu didekat kita saat ini. 

Yang bukan tidak mungkin, kesempatan kecil yang sudah kita lewatkan itu ternyata adalah hal yang akan membawa kita menjadi lebih besar.


Saya jadi teringat akan sebuah potongan curahan hati dari seorang pemuda berusia 25 tahun saat tulisan ini dibuat, yang juga termasuk salah satu sahabat saya. Berikut ceritanya...



_____________ _ _ _ _
Sore ini aku masih sama seperti aku di sore kemarin, masih dengan segala kondisi dan keadaan yang persis sama. 

Banyaknya hal yang belum tercapai dan beragamnya proses yang sudah aku lalui, tetap saja belum membuatku menemukan cara bagaimana agar aku segera mencapai tujuan yang kuharapkan. 

Berbagai macam dampak buruk pun juga telah menimpaku terkait keadaan hidupku yang masih seperti saat ini. 

Padahal bermacam cara yang menurutku hebat telah kulakukan, baik itu saran dari orang lain yang ku anggap lebih pintar dariku maupun dari hasil pemikiran-pemikiran hebatku sendiri. 

Namun, sampai sekarang harapan-harapan tersebut belum juga terwujud.

Dan tak bisa aku ingkari, kini aku mulai kehabisan tenaga. Ditambah dengan peristiwa-peristiwa disekelilingku yang semakin melunturkan semangatku. 

Contohnya saja seorang teman yang dulu sama keadaanya denganku dan menurutku lebih lemah dariku, tapi kini sudah jauh berbeda kehidupannya denganku. 

Beberapa fokus tujuannya yang pernah diceritakan kepadaku beberapa tahun yang lalu, kini terlihat sebagian telah terwujud. 

Walau belum seluruhnya terwujud, namun terlihat hidupnya begitu ringan. Berbeda denganku yang semakin hari rasanya semakin berat. 

Hal ini membuatku semakin bingung dalam kelemahanku. Berselang beberapa waktu yang lalu, tanpa disengaja, kami duduk bersebelahan di warung kopi, tempat biasa dulu kami sering berkumpul bersama teman-teman yang lain. 

Dan dia pun menghampiriku lalu kami pun memulai obrolan santai. Sesaat setelah itu, kuberanikan diri menanyakan beberapa hal kepadanya, apa yang sudah dilakukannya selama ini dan apa yang membuatnya masih terus bertahan dalam kesulitan yang relatif sama denganku.

Perkataan awal yang diucapkannya adalah, "aku tidak mau terlalu fokus pada keinginanku, tapi aku memang gemar mengambil kesempatan!", walau kesempatan terdekat yang akan diambil tidak ada kaitannya dengan fokus utamanya. 

Namun ternyata hal sederhana inilah yang membuatnya menjalani berbagai kondisi dengan tenang dan ringan, namun perlahan-lahan apa yang diinginkannya bisa terwujud. 

Terlihat dia coba sudah memulai jawaban bijaksananya, dengan sebelumnya mengambil secangkir kopi hangat untuk meminumnya perlahan, lalu melanjutkan penjelasannya.

Contoh nyata yang diberikannya adalah, saat kita fokus ingin memiliki sebuah sepeda, yang dipikirkannya pertama kali adalah melibatkan Tuhan dalam niatnya, dengan nada ringan dia mengatakan "tentu saja dimulai dengan berdoa kepada Tuhan dong...", -'diapun tersenyum sambil memegang pundakku'-. Dengan gaya berguraudia mengingatkanku agar aku selalu dekat dan pandai berterimakasih kepada Tuhan

Lalu diapun menegaskan kembali apa yang terkonsep didalam pikirannya dengan mengetahui bagaimana caranya merawat sepeda, hal apa saja yang akan membuat sepeda itu terlihat lebih bagus dari sepeda-sepeda yang lain, bagaimana agar sepeda yang akan dimilkinya tetap dalam kondisi baik dalam beberapa tahun kedepan. 

Dan jika sudah mulai bosan, bagaimana cara menggantinya dengan yang lebih baik namun dengan harga yang tidak terlalu jauh dibawah saat kita membelinya, dan banyak lagi hal lain. -'Sambil sesekali menyenggol pundakku'-, dia kembali menyentil pikiranku "hidup jangan serius-serius banget kawan..., hehe..!" -'seolah dia ingin membuat percakapan ini santai'-.








Dari perumpamaan awal dan singkat darinya ini saja sudah sangat inspiratif bagiku, bahkan mulai membuka pikiranku, ternyata saat kita memiliki satu keinginan atau satu harapan saja, sebenarnya dengan sendirinya kita sudah dihampiri banyak peluang yang bisa diambil.  

Dan sebelum kami melanjutkan percakapan, aku sudah mulai paham arah pembicaraan dan konsep cara berpikirnya. 

Saat kita ingin memiliki sebuah sepeda namun belum memilki cukup uang untuk membelinya, sebenarnya kita bisa mengembangkan uang yang sekarang kita miliki dengan membuka usaha jasa perawatan sepeda atau menjual asesorisnya. 

Dan setelah mendapat keuntungan, kita bisa menggunakan keuntungan tersebut untuk membeli sebuah sepeda. 

Atau jika dengan konsep seperti ini, tidak perlu diam terlalu lama untuk menunggu uang kita cukup agar bisa membeli sepeda dengan kondisi yang utuh, aku mala berpikir, bisa saja kita mencicilnya. 

Mungkin dengan cara lebih dahulu membeli rodanya, atau membeli bagian yang lebih sederhana dari sebuah sepeda. Contohnya saja tutup pentil angin roda sepedanya, "hehe..."

Dan menurutku konsep pola berpikir sederhana perihal sepeda ini, adalah konsep dasar berpikir sederhana dalam memulai analisa persoalan apapun di kehidupan kita sehari-hari. 

Misal saja saat kita ingin memiliki sebuah mobil, rumah, atau dalam menentukan pilihan jenis usaha. 

Tentu dengan konsep yang tidak terlalu jauh berbeda.    

-'Aku pun tersenyum kecil dibarengi dengan semangat baru yang berkobar-kobar didadaku'-. Sekarang aku baru sadar, apa yang menjadi kelemahanku selama ini. 


Dan ternyata aku telah melakukan kesalahan yang cukup besar. Dan kini aku pun tahu, jika fokusku pada keinginan memang sudah benar, namun ternyata caraku mengelolah fokus yang masih salah. 

Caraku yang hanya fokus pada hasil akhirnya tetapi tidak bersungguh-sungguh memahami langkah-langkah bagaimana seharusnya aku sudah bisa menikmati impianku walaupun masih dalam proses perjalanan pencapaian. 

Semua memang harus dimulai dari hal kecil yang paling dekat dengan kita, yaitu mengubah hal yang paling sederhana menjadi potensi yang menguntungkan. 

Hal inilah yang sudah aku abaikan selama ini.

Dan mulai sekarang, aku harus berusaha menyederhanakan semua hal yang terlihat sulit. -'Dengan wajah sedikit bersinar pemuda ini mencicipi kopinya sambil melirik sepotong kue coklat yang masih hangat dan siap untuk mengubah konsep berpikirnya'-.


_ _ _ _ _ ____________



"Jangan sibuk 
mengejar keinginan,
tapi gemarlah 
mengambil kesempatan..."


Nah sekarang, bagaimana penilaian Anda mengenai potongan curahan hati diatas?

Saya mencoba mengambil pelajaran, bahwa cara bepikir sederhana ternyata mampu mengubah hidup seseorang menjadi lebih baik, mampu membuat dampak baik yang luar biasa. 

Banyak yang bisa kita temukan juga lakukan saat kita menyederhanakan banyak hal yang terlihat sulit, tapi sering kali kita mengabaikannya. 

Kadang kita lebih memilih memulai sesuatu hal yang besar dengan segala macam strategi yang rumit, namun, sering kali kita berhenti ditengah jalan karena tenaga yang kita perlukan sudah terlanjur habis sebelum sampai di tujuan. 

Jika saya ingat lagi pepatah lama yang mengatakan "berakit-rakit kehulu, berenang-renang ketepian". saya malah berpikir, "untuk apa kita berenang kalau ada rakit!" ...hehe...

Ini persoalan pilihan cara berfikir, bukan seberapa jeniusnya Anda merancang strategi yang akan membuat Anda ingin terlihat hebat, namun, pada akhirnya Anda lelah dalam kegagalan. 

Jika diibaratkan kita ingin bertamasya ke tempat wisata yang akan ditempuh dengan kendaraan umum misalnya Bus, dan dengan jarak tempuh ketempat tujuan yang lumayan jauh. 

Dengan niat ingin menikmati pemandangan dan suasana alam disana. 

Langkah pertama yang baik dalam hal ini menurut saya adalah menemukan Bus yang paling nyaman sesuai kondisi keuangan kita. 

Lalu bagaimana kita akan mampu menikmati situasi serta suasana di dalam Bus dan diluar Bus saat dalam perjalanan. 

Kita harus benar-benar peka terhadap hal-hal kecil untuk mencari cara agar kita bisa menikmati kondisi apapun yang akan terjadi dan terlihat saat dalam perjalanan, jika kita tidak ingin merasa bosan, terasa waktu perjalanan begitu lama, lalu kelelahan atau bahkan sakit ketika kita sampai di tujuan wisata tersebut. 

Alih-alih menikmati wisata, mungkin kita akan lebih tersiksa karena mungkin kondisi tubuh kita yang tidak lagi sehat saat kita tiba ditempat tujuan. 

Kalau sudah begitu, pasti akan berpengaruh pada hal-hal lain terkait kenyamanan dan ketenangan pikiran kita.

Namun berbeda jika diperjalanan saja kita sudah mendapat ketenangan dan kenyamanan yang bisa kita nikmati, pastinya dong, kita akan mendapatkan kenikmatan berlipat-lipat saat sesampainya di tempat tujuan. 

Perjalanan yang lumayan jauh pun terasa sangat dekat, bahkan saat perjalanan kembali kerumah pun kita akan kembali terhibur oleh indahnya perjalanan kembali. Sekarang pilihan ada pada diri kita.

Saya lebih memilih berpikir sederhana dengan tetap melibatkan Tuhan dalam segala hal tentunya, walau tidak semua persoalan bisa diselesaikan dengan cara yang sederhana. 


Tapi setidaknya kita sudah mencoba menyederhanakannya dan sudah berusaha untuk tidak membuang-buang tenaga yang mungkin masih sangat kita butuhkan di panjangnya perjalanan perjuangan kita. 

Untuk hasil akhirnya biarkan Tuhan yang mengurusnya. Karena kita semua tahu bahwa "Tuhan maha memelihara dan maha mengurusi makhluk-Nya". 

Tugas kita hanya memilih cara-cara terbaik yang paling disukai-Nya. Dan saya tetap yakin bahwa sederhana itu sangat indah. 

Sekarang mari kita sama-sama mengubah cara berpikir kita, jangan pernah mau terus menerus mengejar impian saja, namun harus juga bisa menikmatinya ketika masih dalam perjalanan dan saat menjemputnya. 

Sederhanakanlah semua hal yang terlihat sulit mulai sekarang. Selamat mengejar dan menjemput impian Anda.

Terimakasih dari kami, kami sangat bahagia menghabiskan waktu bersama Anda disitus ini.   

Medan, 22 Februari 2019

By : sj . Owner " m a L u L u p a " 

Read More
User GIT

Rahasia Mengubah Dunia

By  

Tips rahasia dalam mewujudkan tujuan kita, disini kita akan mengulas sedikit rahasia bagaimana agar kita mampu mengubah apa yang ingin kita ubah sesuai keinginan kita.

Ketika aku masih muda dan bebas berkhayal, aku bermimpi ingin mengubah dunia. Seiring dengan bertambahnya usia dan kearifanku, kudapati bahwa dunia tak kunjung berubah.
Maka cita-cita itupun agak kupersempit, lalu kuputuskan untuk hanya mengubah negeriku. Namun tampaknya hasrat itupun tiada hasilnya.
Ketika usiaku semakin senja, dengan semangat yang masih tersisa, kuputuskan untuk mengubah keluargaku, orang-orang yang paling dekat denganku. Tetapi celakanya mereka pun tidak mau diubah!
Dan kini sementara aku berbaring saat ajal menjelang, tiba-tiba kusadari : andaikan yang pertama kuubah adalah diriku, maka dengan menjadikan diriku sebagai panutan, mungkin aku bisa mengubah keluargaku. Lalu berkat inspirasi dan dorongan mereka, bisa jadi akupun mampu memperbaiki negeriku; kemudian siapa tahu, aku bahkan bisa mengubah dunia!
—Tulisan yang mengharukan tersebut dipahat di atas sebuah makam di Westminster Abbey, Inggris, dengan catatan tahun 1100 Masehi.—
Setiap dari kita mungkin pernah pada suatu saat memiliki keinginan dan keyakinan yang begitu kuat untuk mengubah dunia. Entah pada saat kita kanak-kanak, remaja, dewasa, bahkan setelah kita memasuki usia senja.
Namun pada akhirnya waktu jugalah yang menguji tekad dan keyakinan kita tersebut. Hari demi hari berganti, bulan demi bulan berlalu, dan tak terasa usia kita terus bertambah sehingga bahkan sebagian dari kita mungkin mulai berpikir tidak akan lama lagi berada di dunia ini.
Namun apa yang terjadi dengan keinginan kita untuk mengubah dunia? Ketika kita menelusuri kembali perjalanan hidup kita, ternyata tidak banyak yang kita ubah seperti tulisan pada makam di atas.
Bahkan bisa jadi kita hampir tidak bisa mengubah diri kita sendiri. Untuk menghindari nasib tragis seperti kisah di atas, ada baiknya kita mencari tahu apa yang salah sehingga kita bisa segera memperbaikinya dan memanfaatkan waktu yang masih kita miliki sebaik-baiknya untuk mengubah dunia.
Setiap orang pada dasarnya memiliki keinginan untuk mengubah dunia atau paling tidak sebagian dari dunia. Khususnya ketika orang tersebut masih berusia muda, memiliki semangat yang kuat dan keyakinan yang tinggi. Namun demikian, tidak banyak yang mengetahui dan menyadari dari mana dan bagaimana memulai sebuah perubahan. Untuk lebih jelasnya marilah kita simak satu situasi sederhana berikut ini.
Pada saat berbincang-bincang dengan rekan sejawat Anda, topik pembicaraan mana yang paling menarik untuk dibahas?

  • Situasi perekonomian dunia yang dipicu oleh tidak menentunya harga minyak bumi.
  • Iklim politik tanah air dan perkiraan pemenang pemilu tahun depan.
  • Kemacetan yang terus meningkat di kota Anda.
  • Kondisi persaingan bisnis di industri tempat dimana Anda bekerja.
  • Kebijakan manajemen puncak tempat dimana Anda bekerja.
  • Menumpuknya pekerjaan Anda akhir-akhir ini.
Berdasarkan pengamatan dan survey yang saya lakukan, sebagian besar memilih untuk membicarakan topik nomor 1 sampai nomor 5. Bahkan topik nomor 1 sampai topik nomor 3 menjadi bahan pembicaraan di kalangan luas mulai dari pembicaraan di warung-warung di pinggir jalan, sampai pembicaraan para pejabat dan eksekutif perusahaan.
Topik nomor 6 biasanya hanya dibicarakan di meja-meja rapat itu pun harus dengan diembel-embeli workshop atau lokakarya yang mengambil tempat di hotel berbintang atau villa yang sejuk dan jauh dari tempat kerja dengan diselingi (atau bahkan tergantikan) oleh pembicaraan topik nomor 1 sampai nomor 5.
Lebih menariknya lagi, topik nomor 6, kalaupun sengit dibicarakan, hanya sedikit yang menuangkannya dalam rencana kerja yang cukup jelas dan rinci. Bahkan bila sudah ditulis dalam rencana kerja yang cukup jelas dan rinci, hanya sedikit yang benar-benar melakukannya.
Suatu ketika, saya menemukan jawaban yang sangat menarik dalam salah satu sesi pelatihan yang saya ikuti. Dalam pelatihan tersebut, saya diajarkan bahwa setiap orang sesungguhnya memiliki tiga lingkaran dengan pusat yang sama dalam kaitannya dengan perubahan.
Lingkaran yang paling luar adalah lingkaran pengamatan (circle of attention).
Pada lingkaran ini, kita hanya bisa menjadi penonton. Kita praktis tidak memiliki kekuatan untuk melakukan apa-apa selain menerima yang terjadi.
Kembali pada lima topik pembicaraan di atas, topik nomor 1 sampai topik nomor 3 berada pada circle of attention bagi kebanyakan orang kecuali orang itu memiliki kekuasaan yang sangat besar untuk mempengaruhi situasi-situasi tersebut.
Kemungkinan lainnya, orang tersebut kebetulan menjadi pelaku dari peristiwa tersebut sehingga ia memiliki pengaruh terhadap fenomena yang sedang terjadi. Di luar kedua kemungkinan tersebut, usaha yang bisa kita lakukan hanya doa.

Lingkaran yang kedua adalah lingkaran perhatian (circle of concern).
Pada lingkaran ini, kita menjadi pemeran figuran. Kita bisa berinteraksi dengan pemeran utama atau pemeran pembantu, tetapi kita tidak bisa berbuat banyak selain memberikan dukungan berupa upaya dan mungkin dana.
Topik nomor 4 dan 5 berada pada lingkaran perhatian ini. Kecuali, tentu saja, kitalah penguasa bisnis di industri tersebut atau manajemen puncak di perusahaan kita.

Lingkaran yang ketiga, yang merupakan lingkaran yang paling dalam, adalah lingkaran pengaruh (circle of influence).
Pada lingkaran ini, kita menjadi pemeran utama. Kita bisa melakukan sesuatu untuk menciptakan perubahan.
Topik nomor 6 berada pada lingkaran paling dalam ini.
Memang lingkaran pengaruh ini mungkin terasa kecil bagi seseorang pada awalnya.
Namun demikian, bila lingkaran ini mampu digarap dengan baik dan sungguh-sungguh, lingkaran ini akan membesar sehingga apa yang tadinya berada pada lingkaran perhatian dan bahkan lingkaran pengamatan bisa masuk ke dalam lingkaran pengaruh tersebut.
Dalam salah satu kesempatan memberikan pelatihan di Bandar Lampung, saya berjumpa dengan seseorang Vice President sebuah perusahaan distribusi ayam yang juga menjadi pembicara tamu pada program pelatihan tersebut.
Beliau menuturkan kisah suksesnya meniti karir di perusahaan yang menguasai distribusi ayam se-Sumatera tersebut.
Berawal dari seorang salesman, Pak Agus, begitu panggilan beliau, mulai melakukan perubahan berawal dari lingkaran pengaruhnya.
Sebagai contoh, Pak Agus mencatat stock ayam yang tersedia di setiap peternakan meskipun tidak diperintahkan oleh atasannya. Pak Agus juga membangun hubungan yang baik dengan para peternak meskipun dalam mata rantai bisnis, sebenarnya Pak Agus ini adalah customer bagi para peternak tersebut.
Komitmen Pak Agus untuk mengubah apa yang ada di lingkaran pengaruhnya (circle of influence) telah memberinya kesempatan untuk mengubah apa yang ada di lingkaran perhatiannya (circle of concern).
Suatu ketika, perusahaan distribusi tersebut membutuhkan suplai ayam dengan jumlah yang besar dalam waktu yang singkat. Para salesman yang lain serta merta menjadi panik dan menyatakan tidak sanggup memenuhi permintaan tersebut.
Sebaliknya, Pak Agus, yang memang sudah mengetahui jumlah ayam yang ada di masing-masing peternakan dan didukung hubungan baik dengan para peternak, segera menyanggupi permintaan tersebut.
Upaya-upaya luar biasa terus dilakukan oleh Pak Agus untuk mengubah apa yang bisa diubah seperti melampaui target penjualan yang menantang.
Perlahan-lahan, lingkaran pengaruh Pak Agus di perusahaan itupun membesar. Hasilnya bisa ditebak, Pak Agus menjadi general manager dan kemudian vice president termuda di perusahaan tersebut.
Sekarang, dengan kedudukan yang jauh lebih tinggi, Pak Agus memiliki lingkaran pengaruh yang jauh lebih besar.
Hal-hal yang tadinya berada pada lingkaran perhatian (circle of concern) atau bahkan lingkaran pengamatan (circle of attention), sekarang telah masuk ke dalam lingkaran pengaruhnya (circle of influence).
Kesalahan yang sering kali terjadi pada saat seseorang berusaha melakukan perubahan adalah Ia justru sibuk mengubah apa yang ada di lingkaran pengamatan tanpa memperbesar lingkaran pengaruhnya.
Bahkan yang lebih mendasar lagi, banyak orang yang bahkan tidak bisa membedakan mana yang berada di lingkaran pengamatan, mana yang berada di lingkaran perhatian dan mana yang berada di lingkaran pengaruh baginya.
Terkadang, memang tidak mudah menyadari keberadaan ketiga lingkaran tersebut apalagi membedakannya.
Untuk bisa menggunakan ketiga lingkaran tersebut dengan tepat, dibutuhkan kebesaran jiwa, keberanian dan kebijaksanaan seperti dipanjatkan oleh Reinhold Nieburh dalam doanya pada tahun 1926.

"Tuhan, berikanlah aku 
kebesaran jiwa
untuk menerima 
hal-hal yang tak dapat kuubah,
keberanian untuk mengubah
hal-hal yang dapat kuubah
 dan kebijaksanaan
 untuk membedakan keduanya."

Terkadang, mungkin kita tidak dapat mengubah sesuatu namun kita tidak bisa menerima kenyataan tersebut.
Pada kesempatan lain, kita sebenarnya bisa melakukan perubahan, namun kita tidak memiliki cukup keberanian untuk memulainya.
Namun yang lebih penting lagi, kita seringkali kehilangan pijakan pada saat harus membedakan mana yang bisa kita ubah dan mana yang belum saatnya kita ubah.
Semoga Anda memiliki kebijaksanaan yang satu ini untuk mulai mengubah dunia !
by: Jemy V Covindo
Read More
User GIT

Cara Memulai Investasi

By  

Melirik manisnya keuntungan dalam dunia investasi saat sekarang ini, membuat semua dari kita ingin mengenal dan mengetahui bagaimana cara memulainya. Mari kita mulai pembahasan ini.

Tulisan ini dibuat karena banyaknya pertanyaan yang sama ditanyakan berulang-ulang. Saking seringnya mendapat pertanyaan ini, saya bahkan sampai menyiapkan piring cantik buat para penanya yang beruntung... (hehe). Jadi saya susun tulisan panjang ini sebagai referensi untuk Anda yang ingin tahu atau baru ingin memulai berinvestasi.

Adapun dua poin penting yang menjadi dasar tulisan ini.

  • Bahwa investasi itu adalah pengorbanan dimasa sekarang untuk memperoleh hasil yang lebih baik dimasa depan. Seperti kata pepatah, berakit-rakit kehulu, berenang-renang ketepian.
  • Investasi adalah bagaimana membuat money work harder than you, bukan Anda bekerja untuk uang.

So, let's get stuck in.

Before We Get Started


Sebelum memulai, ada baiknya Anda lihat diri Anda sekarang. Berapa "uang dingin" yang Anda miliki saat ini? Jangan gunakan uang yang dijatah untuk kebutuhan hidup sehari-hari. Berapa banyak Anda mau berkomitmen untuk menyisihkan dana setiap bulan atau setiap tahunnya? Tiap orang punya latar belakang dan preferensi masing-masing yang berbeda satu sama lain.

Kalau sudah melihat sikon diri sendiri, sekarang tentukan tujuan investasi Anda. Berapa besar target yang ingin Anda capai? Berapa lama jangka waktu yang Anda miliki? Apakah mau menyisihkan dana untuk pensiun? Ingin naik haji lima tahun lagi? Menabung untuk pendidikan anak Anda kelak? Sekedar ingin terlihat keren menyandang status sebagai ‘investor’? Atau ingin diam-diam kawin lagi dan butuh dana untuk menghidupi istri muda? (eh)

Kalau sudah, pertanyaannya sekarang, seberapa kuat Anda berkomitmen untuk beneran berinvestasi? Secara psikologis, manusia lebih suka bersenang-senang hari ini (instant gratification) daripada menunda demi kesenangan yang lebih besar di masa depan. Nah, bisakah Anda melawan godaan ini? Bayangkan, teman Anda punya iPhone 5 terbaru dan Anda masih menggunakan handphone yang Anda beli tiga tahun lalu. Teman Anda mencicil mobil baru tiap bulannya, sementara Anda mencicil saham dan reksadana. Teman Anda bisa mengelus-elus mobil barunya yang masih mulus. Anda bisa mengelus-elus apa? I’m not saying it’s going to be easy, but I’m telling you it’s probably going to be worth it.

Tapi di sisi lain, jangan pula bersikap terlalu impulsif. Berinvestasi karena produk X atau bank Y menawarkan Samsung S4 baru atau mobil Avanza? Tertarik membeli reksadana atau saham karena harganya belakangan naik? Anda sih bisa saja keluar dari rumah dan naik angkutan apapun seadanya (ojek, angkot, bus, taksi), dan tiba di tempat yang dituju. Tapi perjalanan investasi tidak sama dengan perjalanan ke Kelapa Gading atau ke Pasar Minggu.


Tabungan/Deposito vs. Inflasi



Pada poin kedua yang sudah saya singgung di atas, tujuan investasi adalah to make money work harder than you, sedemikian hingga Anda tidak perlu bekerja susah payah lagi di kemudian hari. Anda bisa menikmati kerja keras investasi Anda sementara Anda tak perlu bekerja dan bebas melakukan sesuatu yang menjadi hobi, passion, atau cita-cita Anda.

Nah, untuk mencapai itu semua, diperlukan instrumen investasi yang (1) bisa mengalahkan inflasi, dan (2) pada akhirnya kelak bisa menutup biaya hidup Anda tanpa Anda harus bekerja. Inflasi adalah ilusi yang mematikan karena menggerus kekayaan Anda tanpa Anda sadari. Lima tahun lalu, Rp 10.000 bisa buat makan bakso berdua. Tapi sekarang, dengan nominal yang sama cuma dapat satu porsi saja. Lima tahun lagi mungkin cuma bisa dapat kerupuknya saja.

Saya tidak menyebut tabungan dan deposito sebagai instrumen investasi karena untuk mengalahkan inflasi saja ia gagal. Misalnya, suku bunga deposito di BCA untuk nominal di bawah Rp 2 miliar bunganya hanya 4,5%. Tabungan (Tahapan BCA) di bawah Rp 1 miliar cuma dapat bunga 1,3%. Bandingkan dengan inflasi kita yang ada di kisaran 6%. Kalau cuma ditabung, kekayaan Anda akan tergerus 4,7% tiap tahunnya, sementara kalau didepositokan, akan tergerus 1,5% per tahun.

Beberapa bank (juga BPR) memang ada yang menawarkan rate lebih tinggi. Tapi perlu dicatat bahwa LPS hanya menjamin simpanan pada nominal dan rate tertentu. Kalau lebih dari itu, LPS tak mau tanggung jawab. Satu-satunya “keuntungan” deposito menurut saya adalah bilyet depositonya bisa digunakan sebagai jaminan untuk mendapatkan kredit di bank yang bersangkutan, walaupun hanya 80-90% dari dana yang Anda depositokan dengan bunga sekitar 3-4% dari bunga deposito yang Anda peroleh.

Alternatif yang lebih menarik mungkin Obligasi Ritel Indonesia (ORI) yang ditawarkan hampir tiap tahun sejak 2006 lalu. Pertama kali diluncurkan, suku bunga ORI001 besarnya 12,05%, tapi belakangan suku bunganya makin menurun—mungkin karena peminatnya makin banyak. ORI007 dan ORI008 misalnya cuma dipatok 7,95% dan 7,3% saja. ORI009 bahkan cuma ditawarkan di 6,25% (jatuh tempo 15 Oktober 2015).

Investasi Reksadana

Saya pernah menulis buku tentang reksadana beberapa tahun lalu. Bagi para pemula, saya memang sering menyarankan reksadana untuk ‘test the water‘, sebagai wahana untuk menguji dan melatih Anda dalam berinvestasi. Reksadana relatif mudah dilakukan, bisa memperkenalkan Anda terhadap dunia investasi dan pasar modal, serta relatif bisa dimulai dengan modal yang kecil.

Cara memulai investasi di reksadana juga gampang. Anda cukup mencari produk reksadana yang sesuai, pilih manajer investasinya, baca prospektusnya, lalu lakukan pembelian (subscription) dan transfer dananya. Anda bisa membeli langsung melalui manajer investasi atau membelinya lewat agen (bank) yang ditunjuk. Pilihan produknya juga beragam, mulai dari reksadana pasar uang, reksadana pendapatan tetap, reksadana saham, reksadana campuran, reksadana ETF, dan reksadana indeks. Daftar lengkapnya bisa Anda lihat di sini.

Membuka rekening reksadana tak beda jauh seperti membuka rekening bank. Anda akan diminta untuk mengisi formulir, menyiapkan fotokopi identitas, dan tentu saja menyiapkan dana yang hendak Anda investasikan. Satuan reksadana dihitung berdasar unit penyertaan (UP) dan nilai aktiva bersih (NAB). Semisal hari ini reksadana X harga NAB-nya Rp 1.300. Anda berencana membeli 1.000 unit penyertaan. Maka Anda membutuhkan dana Rp. 1,3 juta (plus komisi/fee).

Seandainya akhir tahun nanti harga NAB-nya Rp 1.500 dan Anda hendak mencairkan reksadana Anda, maka keuntungan Anda sebesar Rp 200 ribu (minus komisi/fee/pajak). Sebaliknya, andaikata harga NAB-nya turun jadi Rp 1.000, maka kerugian Anda jadi Rp 300 ribu (plus komisi/fee). Tiap tahun (atau tengah tahun), manajer investasi akan mengirimkan Anda laporan investasi reksadana Anda. Laporan inilah yang menjadi bukti/konfirmasi atas kepemilikan reksadana Anda.

Kalau mau ingin serius terjun ke dunia investasi, saya sebenarnya tidak terlalu menyarankan reksadana sebagai komponen utama untuk investasi. Alasan pertama, faktor biaya yang tinggi membuat kinerjanya jadi kurang optimal (saya pernah menulisnya di sini). Sebenarnya ada alternatif yang bagus, yaitu reksadana indeks, namun pilihannya masih terbatas dan faktor biayanya masih dipertanyakan. Alasan kedua, silakan Anda lihat daftar orang terkaya di Indonesia (atau di dunia). Anda akan menemukan nama-nama orang kaya berkat saham, properti, atau bisnis—tapi tidak dari reksadana.

Investasi Saham

Banyak orang membahasakan investasi saham sebagai trading saham—yang tak jarang hanya mengandalkan rumor dan menggunakan margin yang tinggi. Tentu investasi model semacam itu jelas tidak disarankan. Selain berisiko tinggi, bisa bikin jantungan dan mengancam keharmonisan rumah tangga. Investasi saham yang dimaksud adalah investasi yang dilakukan dengan terukur, dihitung berdasar valuasi yang baik, dan direncanakan dengan matang. Saya lebih menyarankan pendekatan fundamental dan jangka panjang, bukan short-term trading dan spekulasi.

Memulai investasi saham mirip dengan memulai investasi reksadana. Anda harus membuka rekening di sekuritas terlebih dahulu sebelum bisa bertransaksi (lengkapnya bisa dilihat di sini). Yang membedakan antara broker/sekuritas yang satu dengan yang lain biasanya pada jenis layanan yang diberikan, biaya yang dibebankan kepada investor, dan pada kekuatan modal (MKBD) yang dimiliki. Mirip seperti membuka rekening reksadana, Anda akan diminta untuk mengisi formulir, membuka rekening dana investor (RDI), menyiapkan fotokopi identitas, NPWP, dan berkas-berkas lainnya. Setelah rekening saham Anda aktif, biasanya 3×24 jam, barulah Anda bisa menyetor dana (deposit) dan mulai melakukan transaksi saham.

Belakangan ini, banyak broker/sekuritas memberikan layanan online trading yang murah dan mudah diakses dari manapun. Anda juga bisa memulai investasi dengan modal awal yang cukup rendah, mulai dari Rp 5-10 juta—walaupun pilihannya jadi lebih terbatas. Bagi pemula, biasanya saya sarankan untuk memilih saham-saham blue chip (LQ45) yang solid. Kalau masih bingung, Anda bisa meniru (mirroring) dari reksadana saham. Ambil salah satu reksadana saham yang kinerjanya bagus, download prospektusnya, lihat komposisi isi perutnya, lalu belilah saham-saham itu sesuai preferensi dan sikon Anda. Walaupun isinya lebih berbasis historical data dan hanya meng-cover top holding saja, tapi setidaknya informasi ini bisa memberikan Anda sedikit ‘clue.’

Berdasar pengalaman dari beberapa klien saya, selama Anda tidak memilih saham abal-abal maka kinerja investasi Anda akan cukup memuaskan—jauh di atas bunga deposito. Bagi mereka yang lebih advanced, saya biasanya menyarankan metode valuasi yang lebih kompleks untuk melihat (spottingsaham-saham yang masih murah dan punya upside potential bagus.

Investasi Emas

Saya pernah menulis buku tentang investasi emas beberapa tahun lalu tepat pada saat terjadi krisis finansial 2008. Buku tersebut adalah salah satu buku pertama yang membahas tentang emas—jauh sebelum hingar bingar soal kebun emas dan dinar emas. Di buku itu, saya tidak menyarankan emas sebagai investasi ‘per se’, tetapi lebih sebagai diversifikasi dan hedging risiko.

Saya bukan penggemar emas. Biasanya saya tidak menyarankan komposisi emas yang terlalu besar dalam portofolio Anda—tak lebih dari 10-15%. Alasan pertama, emas hanya naik bila didorong oleh faktor krisis, perang, bencana, dan catastrophe lainnya. Kedua, hasil trace back ke belakang juga membuktikan bahwa emas masih kalah dari saham, reksadana, dan properti. Dan terakhir, yang menurut saya paling penting, emas tidak memberikan cashflow seperti halnya instrumen investasi yang lain. Anda hanya bisa merealisasikan profit investasi emas Anda ketika Anda menjualnya lagi.

Bagi Anda yang tertarik berinvestasi emas, saya menyarankan untuk berinvestasi dalam bentuk fisik. Anda bisa membelinya dari toko-toko emas atau dari Logam Mulia (PT Antam). Beli emas secara legal dan lengkapi dengan dokumen (sertifikat) yang resmi. Simpanlah dalam tempat yang aman atau sewa safe deposit box di bank. Saya tidak menyarankan membeli emas dalam bentuk surat/sertifikat (buat apa?). Saya juga tidak menyarankan membeli emas dengan mencicil/berhutang—karena emas bisa turun harganya. Saya juga tidak menyarankan membeli lewat pihak ketiga semisal lewat MLM/arisan yang dibungkus investasi emas.

Secara hitung-hitungan, lebih menguntungkan membeli dalam bentuk batangan/lantakan. Pecahan yang kecil (50 gram atau yang lebih kecil) biasanya lebih “mahal” daripada pecahan yang besar (di atas 50 gram), tetapi lebih mudah diperjualbelikan kembali karena pasarnya lebih luas. Kalau Anda punya uang nganggur dan mau “menabung” emas tapi dana terbatas, Anda bisa membeli dari pecahan terkecil 5 gram (sekitar Rp 3 juta). Ketika hendak menjual kembali, akan lebih menguntungkan kalau Anda ketemu buyer langsung, seperti famili atau teman kantor, daripada menjualnya ke toko emas.

Investasi Properti

Strategi berinvestasi di properti bisa dimulai dengan mencari rumah seken yang ada di kisaran harga Rp 500 juta ke bawah (tergantung lokasi). Rumah di atas Rp 500 juta pasarnya cenderung menyempit dan spesifik. Selain itu, rumah kelas Rp 500 juta ke bawah lebih pas untuk disewakan bagi PNS atau pegawai kantoran yang baru menikah (keluarga muda). Kalaupun Anda ingin menjualnya kembali, dengan harga segitu relatif tidak sulit bagi Anda untuk menemukan pembeli.

Usahakan Anda bisa mematok biaya sewa 3-7% dari harga properti. Tergantung pada wilayahnya, potensi naiknya harga properti (capital gain) berkisar antara 10-20% per tahun. Kalau Anda menggunakan pembiayaan dari KPR untuk mendapatkan rumah tersebut, buat perhitungan dan perencanaan yang matang. Hitung juga nilai dari bangunan rumah tersebut. Harga tanah memang cenderung selalu naik, tapi nilai bangunan akan turun karena termakan usia dan cuaca. Salah satu risiko yang harus diwaspadai ketika menyewakan rumah adalah rumah menjadi tidak terurus dan banyak timbul kerusakan.

Ketika Anda hendak membeli rumah untuk disewakan, perhatikan bahwa harga yang diminta penjual tidak selalu mencerminkan nilai sebuah rumah. Pintar-pintarlah menemukan barang bagus dimana penjualnya sedang butuh uang (BU). Kalau untuk disewakan, usahakan membeli properti yang harganya 70-80% dari harga pasar. Dalam membeli rumah untuk disewakan, gunakan pertimbangan obyektifitas, jangan gunakan faktor like-dislike, karena toh rumah tersebut tidak untuk Anda tinggali sendiri.

Faktor lokasi jelas sangat mempengaruhi sukses tidaknya berinvestasi di properti. Pastikan Anda memilih kawasan yang sudah “hidup” dan ditinggali, bukan rumah kosong yang dibeli spekulan. Pilih juga kawasan dengan fasilitas perbelanjaan, transportasi, dan sekolah/kampus yang memadai. Kalau Anda membeli dari developer, pastikan juga track record developer tersebut bisa dipercaya.

Oke, Selanjutnya Bagaimana?

Seperti slogan Nike, just do itMulailah segera. Tak usah terlalu banyak membuat perhitungan yang terlalu njlimet di tahap-tahap awal. Sisihkan uang “dingin” yang Anda punya, pilih salah satu instrumen yang Anda suka, lalu mulailah berinvestasi. Jangan takut rugi. Mulailah dengan investasi yang bisa dilakukan dengan modal yang relatif kecil terlebih dahulu. Anggaplah ini sebagai ongkos belajar. Daripada Anda bayar jutaan rupiah untuk seminar yang tak jelas, lebih baik untuk belajar investasi langsung.

Jangan berharap return tinggi dalam waktu singkat, terutama di masa-masa awal Anda berinvestasi. Kalau Anda mengharapkan return yang menakjubkan dalam tempo sekejap, lebih baik Anda masuk ke partai dan melamar jadi bendahara umum atau makelar proyek. Fokuslah pada proses pembelajaran, mengumpulkan pengetahuan serta pengalaman, dan profit akan datang dengan sendirinya. Your purpose is to make mistakes, but in the right direction.

Top-up investasi Anda agar terus bertumbuh, atau biasa juga disebut cost averaging, yaitu secara periodik melakukan penambahan pada investasi Anda. Anggaplah seperti menabung. Ada dua hal yang bisa dilakukan: (1) increase your income, dan/atau (2) live below your means. Keduanya memiliki tujuan yang sama, yakni mendapatkan tambahan dana untuk bisa diinvestasikan. Bedanya, live below your means punya limit bawah (pengeluaran Anda tak mungkin nol, bukan?), sementara increase your income secara teknis tak punya limit maksimal (Anda bisa punya penghasilan tak terbatas).

Lakukan fine tuning sambil jalan. Dalam perjalanannya, Anda akan ketemu dengan returnfee, komisi, pajak, dan hal-hal menarik lainnya. Kalau dirasa kurang pas, Anda bisa melakukan adjustment. Semisal komposisi reksadana Anda terlalu besar, maka Anda bisa mencairkan sebagian untuk dipindahkan ke yang lain. Atau, semisal Anda terlalu banyak komposisi di saham tertentu, Anda bisa memindahkan sebagian ke saham yang lain. Kalau ada yang menawar properti Anda dengan harga tinggi, Anda bisa menjualnya untuk dipindahkan ke instrumen lain—atau, lebih baik lagi, ditransfer ke rekening saya. (hehe...)

Bila Anda merasa terbantu dengan tulisan ini, silakan share via Twiter, Facebook, atau media lainnya. 
by : Nofie Iman
Read More