saya juga meyakini bahwa hampir semua dari kita pernah merasakan jatuh hati pada seseorang. Ntah itu pada waktu sekolah, kuliah atau saat sudah mulai bekerja.
Dan tidak sedikit dari kita yang pernah mengalami patah hati karena ditinggal sang kekasih tercinta, dengan berbagai macam alasan menyedihkan.
Saat kita merasa sudah sangat tulus menyayanginya, dan sudah menyusun rencana masa depan untuk bersama mengejar impian, bahkan kita sudah rela memberikan apapun untuk sang kekaksih.
Tapi apa yang terjadi ternyata masih diluar keinginan kita. Begitu mengharukan dan sangat menyakitkan ketika kita mengetahui bahwa sang kekasih lebih memilih orang lain ketimbang kita. Sangat mengiris hati...(hehe...).
Bahkan tragedi patah hati ini telah menimpa beberapa orang yang tidak hanya sekali terjadi, bisa juga berulang kali telah terjadi.
Namun, ada beberapa tipe orang yang segera bangun dari hal menyakitkan ini, yang terus selalu berusaha mendapatkan pengganti yang lebih baik, dan pada akhirnya menemukan pujaan hati yang baru dan mengobati rasa-rasa sakit yang sebelumnya.
Sudah pasti berbeda dengan orang yang terlalu lama larut dalam kesedihan akan hal ini.
Tentu saja orang seperti ini akan lebih lama dalam menemukan pengganti yang lebih baik, atau bahkan ada juga sebagian orang yang akan benar-benar tidak pernah lagi mendapatkan sosok pujaan hati yang telah diidam-idamkan. (saya cukup prihatin...)
Yang selanjutnya,
banyak juga dari kita yang pernah merasakan kesepian dalam keramaian, merasa sendiri saat berkumpul, merasa jenuh di tempat wisata yang kebanyakan orang lain gembira, merasa haru berlebihan saat momen-momen tertentu, sering mengasihani diri sendiri, atau bahkan peristiwa hujan gerimis pun terasa sangat memilukan hatinya (walah...).
Hal-hal seperti ini akan terjadi pada orang yang gemar memelihara dan sangat menyayangi emosi buruk di dalam pikirannya.
Berbeda sekali dengan orang yang sesegera mungkin mengusir emosi buruk saat coba-coba menetap di dalam pikirannya.
Yang akan gampang bahagia pada sekecil apapun situasi kegembiraan disekelilingnya.
Dari ketiga ilustrasi di atas, tanpa kita sadari ternyata untuk mendapatkan atau meraih suatu hal baik yang baru dalam kehidupan ini selalu saja tersisip rasa sakit yang harus dilalui.
Rasa sakit yang saya maksud disini, saya bedakan menjadi dua jenis, pertama saya sebut rasa sakit yang bersifat objektif dan juga rasa sakit yang bersifat subyektif.
Rasa sakit yang bersifat objektif contohnya adalah rasa sakit yang kita rasakan pada waktu kita jatuh saat bersepeda, sedangkan rasa sakit yang bersifat subjektif sebagai contohnya adalah rasa sakit yang kita alamai saat kita patah hati dan sejenisnya.
Pada kesempatan ini saya rasa tidak harus menjabarkan secara panjang lebar terkait kedua jenis rasa sakit ini, karena saya yakin Anda sudah bisa membedakan makna dari keduanya.
Kedua jenis rasa sakit ini, memiliki dampak yang hampir sama dalam membentuk sebuah bayangan-bayangan negatif yang berfungsi untuk melemahkan kita.
Yang jika tidak dikelolah dengan baik, dia akan sangat betah untuk menetap dalam pikiran seseorang disepanjang waktu hidupnya.
Dan sebenarnya kita sudah bisa memahami bahwa membiarkan juga memelihara emosi buruk dalam waktu yang terlalu lama sangatlah tidak baik.
Dan bukan hanya sesederhana itu saja, namun ternyata, emosi buruk yang kita biarkan terlalu lama menetap dalam pikiran kita, akan menjadi bom waktu yang setiap saat bisa saja meledak.
Dan dampak dari ledakan luapan emosi tersebut tidaklah hanya pada kesehatan mental saja, namun juga sangat berdampak pada kesehatan jasmani seseorang.
Tidak usah saya sebutkan, coba lihat disekeliling Anda, penyakit apa saja yang sudah ditimbulkan akibat kekecewaan akan beberapa hal yang tidak terpenuhi sesuai dengan harapan.
Paling sederhananya mungkin sering menyendiri sambil nangis sampai ketiduran, terus masuk angin keesokan harinya (hehe...).
Jadi, bagaimana menyikapi dan menghadapinya?
Menerima
Berusaha menerima apapun yang sudah didapatkan saat ini. Walaupun hasil yang didapat belum sesuai dengan harapan, padahal sudah merasa melakukan hal maksimal menurut kita.
Lalu berusahalah untuk mampu menerima semua peristiwa yang telah menimpa kita, baik peristiwa yang kurang baik maupun yang sangat buruk.
Kita harus benar-benar bisa menerima kenyataan itu, dan kita memang harus menyadari, tidak ada cara terbaik yang bisa kita lakukan selain memaafkan semua hal yang terasa menyakitkan dalam kehidupan ini.
Dan kita sebenarnya sudah tahu bahwa apapun yang telah menimpa kita sesungguhnya adalah karena kehendak dari Tuhan yang sangat menyayangi kita.
Dan hanya Dia yang maha tahu akan apa sebenarnya yang kita butuhkan dalam hidup ini.
Terlepas hal itu baik maupun buruk dimata kita sebagai manusia. Karena hal yang buruk menurut kita, kadang adalah hal yang sangat baik untuk kita menurut-Nya, begitu juga sebaliknya.
Kita hanya butuh waktu menunggu sebentar untuk merasakan hasil baik yang sudah ditetapkan-Nya.
Jadi mulai sekarang, selalu berprasangka baiklah kepada-Nya. "Selalu yakinlah bahwa rasa sakit yang sekarang dialami sebenarnya adalah hal baik yang sedang membawa kita menuju harapan-harapan besar Kita".
Jangan sampai kita malu, karena sudah menduga-duga bahwa Tuhan sedang menyakiti kita, padahal Dia sudah mempersiapkan hal yang sangat indah untuk kita di hari yang akan datang.
Berterimakasih
Jangan sampai lupa berterimakasih. Banyak hal yang kita bisa lakukan saat ini yang mungkin tidak bisa dilakukan semua orang. Terlepas dari harapan-harapan kita yang belum terwujud dan hal-hal yang tidak disukai telah menimpa kita.
Namun jangan sampai terabaikan oleh kita, bahwa sistem pernafasan yang bekerja secara otomatis masih berjalan sempurna pada tubuh kita, fungsi pengendalian informasi dari organ-organ lain pada tubuh yang masih berfungsi dengan semestinya hingga saat ini, dan banyak lagi hal yang jarang kita sadari terus menerus diberikan-Nya secara cuma-cuma.
Dan sekarang mulailah perhatikan hal-hal kecil yang melekat dalam kehidupan kita yang ternyata begitu besar manfaatnya dalam kelangsungan hidup kita.
Bersyukurlah pada itu semua, yang masih dititipkan hingga sekarang pada Anda.

Malu rasanya, jika sampai saat ini kita belum pandai menerima dan belum pandai berterimakasih atas apapun yang telah terjadi.
Kita selalu berharap pada hal-hal yang baik agar dilimpahkan dalam kehidupan kita.
Dan Tuhan pun sudah berjanji akan mengabulkan segala yang kita butuhkan dengan proses yang ditetapkan-Nya.
Namun, ketika harapan-harapan kita mulai akan dikabulkan, ternyata kita tidak siap untuk menjalani prosesnya.
Sikap kita dalam menghadapi proses ini yang tanpa kita sadari ternyata telah mengubah arah harapan-harapan tadi ke arah kebalikannya.
Sebagai contoh, saat kita berdoa dan berharap untuk mendapatkan sebuah smartphone model terbaru.
Tuhan langsung mengabulkannya dengan berbagai cara, mungkin salah satunya dengan cara memberikan kita peluang-peluang yang bisa menghasilkan uang atau lainnya.
Nah, sekarang kembali pada diri kita. Hanya berdoa dan tidak berbuat apapun, atau dengan cerdas membaca peluang tersebut lalu menangkapnya.
Dengan kata lain, sebenarnya kita telah memohonkan satu harapan-harapan buruk dalam hidup kita, jika kita tidak meyiapkan sikap yang baik saat harapan-harapan baik kita sedang dikabulkan.
Hal inilah yang sering menimbulkan ketidakpuasan akan ketetapan yang telah ditentukan-Nya.
Padahal, semua ini adalah kesalahan yang telah kita lakukan. Yang tidak memahami bagaigamana sikap terbaik dalam menghadapi saat harapan-harapan tersebut sedang dikabulkan.
Yang akhirnya membuat kita lupa berterimakasih dan tidak mau berusaha untuk memperbaiki sikap.
Dan parahnya, alih-alih menerima dan berterimakasih, tak sedikit dari kita yang justru berprasangka buruk pada-Nya.
Tapi untungnya, Tuhan maha pengasih dan maha penyayang, kasih sayangnya begitu luas. Dan tidak pernah berhenti mengawasi kita walau kita tak pernah menganggap-Nya.
Dan Dia pun tidak pernah berhenti untuk terus menuntun kita dalam menyikapi, menghadapi, dan juga dalam menjalani kehidupan ini.
Nah, sekarang kembali lagi pilihan ada pada diri kita, akan terus memelihara emosi buruk pada pikiran kita atau sesegera mungkin mengusirnya, ingin melihat semua hal buruk sebagai tragedi yang menyayat hati atau hanya sebagai proses menuju keindahan, ingin sedih dan haru saat rintik gerimis atau bahagialah saat berkumpul bersama dalam sebuah acara?
sebenarnya adalah hal baik
Kita semua yakin bahwa Tuhan sangat menyayangi semua makhluk-Nya tanpa terkecuali, termasuk saya dan Anda.
Namun jika sampai saat ini masih banyak harapan baik Anda yang belum terwujud dan masih banyak hal buruk masa lalu yang terus terpelihara dalam kehidupan Anda.
Menurut saya itu adalah persoalan pilihan. Tuhan memberi kita pilihan atas apa yang akan kita jalani.
Jika ingin berjalan dengan tenang di hari ini, Anda harus benar-benar bisa menerima apa pun yang sudah terjadi di hari kemarin.
Selain bisa menerima, hal yang tidak boleh juga Anda abaikan adalah pandai berterimakasih atau bersyukur atas apa yang telah Anda raih saat ini. Perbanyaklah berterimakasih kepada-Nya.
Mudah-mudahan semakin Anda banyak bersyukur maka semakin banyak hal baik yg Anda harapkan atau hal baik yang belum Anda harapkan akan menghampiri Anda dari arah yang tidak disangka-sangka.
Dan pada akhirnya berbagai bayangan buruk masa lalu Anda, akan segera ditukar dengan bayangan-bayangan baik saat ini yang sangat indah.
Terimakasih dari kami, kami sangat bahagia menghabiskan waktu bersama Anda di situs ini.
Medan, 26 Februari 2019
by : sj. owner " m a L u L u p a "